Tuntut Hak Waris, Supriyadi malah Dikriminalisasi

  • Whatsapp

jurnalcirebon.com – Supriyadii (45), Warga Patrol, Indramayu harus berurusan dengan polisi karena dianggap mengaku-ngaku sebagai anak orang terpandang di Anjatan, Indramayu dan menuntut hak waris atas peninggalan mendiang H. Asmuni yang bernilai puluhan miliar rupiah.

Merasa tidak terima dan menganggap pengakuan Supri hanya mengada-ngada dan bualan semata,  Ratminah, mantan istri mendiang H. Asmuni pun mengadukan permasalahan tersebut ke Polres Indramayu.

Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan jurnalcirebon.com, Rabu (15/01/2020), Ratminah melaporkan Supriyadi pada  tanggal 30 Oktober 2018.

Ratminah membuat laporan pengaduan Supriyadi ke Polres Indramayu yang dianggap mengaku-ngaku sebagai anaknya Asmuni dan mengincar harta warisannya.

Pada tanggal 31 Oktober 2018, Pihak Polres Indramayu pun mengeluarkan Surat Perintah Penyelidikan Nomor : Sp. Lidik/647/X/2018/Reskrim tertanggal 31 Oktober 2018;

Kuasa Hukum Supriyadi, Ibnu Saechu, SH mengatakan,  pada Hari Rabu tanggal 09 Januari 2019 kliennya memenuhi undangan dari Polres Indramayu  untuk dimintai keterangan terkait pengaduan dari Saudari Terlapor ( Hj. Ratminah) tanggal 30 Oktober 2018 tentang dugaan tindak pidana “adanya seseorang yang mengaku-ngaku sebagai anak, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 Kitab Undang-undang Hukum PIdana (KUHP).

“Laporan Terlapor kepada Penguasa dalam hal ini Kepolisian Resor Indramayu pada tanggal 30 Oktober 2018 tersebut merupakan tuduhan fitnah sehingga menyerang kehormatan dan nama baik kliennya,” tegas Ibnu Saechu ditemui jurnalcirebon.com usai sidang Pembatalan putusan penetapan ahli Waris (Asmuni) yang diajukan Ratminah dan anak-anaknya di Pengadilan Agama Indramayu, Rabu (15/01/2020).

Bahwa setelah menerima putusan penetapan ahli waris di Pengadilan Agama Indramayu pada bulan September 2018,  pihaknya melayangkan somasi kepada Ratminah dan anak-anaknya untuk segera membagi harta peninggalan (warisan) dari Almarhum H. Asmuni, karena sebagai salah satu anak dari Asmuni, kliennya dalah pewaris yang sah.

“Namun, mereka justru melaporkan/mengadukan Klien Kami ke Polres Indramayu. Padahal mereka sudah tahu kalau Klien kami adalah ahli waris sah dari Almarhum H. Asmuni dan sudah ada penetapan dari pengadilan” papar Saechu.

Dia mengatakan, Ratminah diduga dengan sengaja membuat laporan palsu dengan bukti-bukti surat yang sudah tidak relevan lagi.

Saechu menjelaskan, berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Indramayu No. 55/Pdt.P/2014/PN/Idm Mejelis Hakim Pengadilan Indramayu dalam putusannya pada tanggal 8 September 2018 telah menetapkan antara lain:

-Menetapakan bahwa pemohon yang bernama : SUPRIYADI, lahir di Indramayu pada tanggal 14 Maret 1974, adalah anak laki-laki dari suami-isteri ASMUNI DAN KUSNIAH;

– Menetapkan bahwa kesalahan penulisan Nama, tanggal lahir dan nama orang tua Pemohon yang tercantum dalam Surat Tanda Tamat Belajar Sekolah Dasar (SD) Negeri Patrol V dahulu di Kecamatan Anjatan sekarang di Kecamatan Patrol Kabupaten Indramayu, Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama (SMP) Swasta Wira Utama di Patrol Kabupaten Indramayu, Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas (SMEA) Swasta PGRI Kandang Haur Kabupaten Indramayu yang tertulis atas nama ENCUP SUPRIYADI, tanggal/tahun kelahiran, 4 Mei 1973 anak Kasan yang benar adalah nama SUPRIYADI, tanggal lahir 14 Maret 1974 anak ASMUNI;

“Bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, Klien kami merupakan anak kandung H. Asmuni, bukan mengaku-ngaku sebagaimana yang dituduhkan,” jelas Ibnu Saechu.

Namun demikian, meskipun Terlapor sudah mengetahui bahwa pengaduan yang yang mereka layangkan ke Polres Indramayu tersebut tidak benar, tetapi Terlapor tetap melakuka pengaduan atau laporan palsu terhadap Pelapor ke Polres Indramayu;

“Karenanya atas laporan palsu/fitnah tersebut Klien kami merasa dirugikan nama baik dan kehormatannya dan telah melaporkan balik pelapor (Hj. Ratminah)” ujar dia.

Pihaknya pun meminta Kepolisian Resor Indramayu untuk segera menindaklanjuti perkara yang sudah dilaporkan sejak setahun lalu tersebut. “Bahkan untuk pembuktian Klien Kami siap melakukan tes DNA,” tantang Saechu.

Dia menambahkan, jika laporannya tidak terbukti, Ratminah  terancam pidana pidana karena melakukan pengaduan fitnah berdasarkan Pasal 317 KUHP :

“Barang siapa dengan sengaja mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan, tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama baiknya terserang, diancam karena melakukan pengaduan fitnah, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.” tandas Saechu. (ST)

  • Whatsapp

Pos terkait